Mengenal SAP Customer Experience dari Fitur, Cara Kerja dan Kapan Perusahaan Membutuhkannya
SAP Customer Experience hadir sebagai jawaban bagi banyak perusahaan menengah-besar yang menghadapi masalah klasik, di mana tim sales, marketing, dan customer service masing-masing punya data pelanggan sendiri-sendiri, tanpa terhubung satu sama lain. Ketika seorang prospek sudah berinteraksi dengan kampanye marketing, lalu ditindaklanjuti sales, tapi tim layanan pelanggan sama sekali tidak tahu riwayat interaksi tersebut, pengalaman yang diterima pelanggan pun terasa terputus-putus.
Masalah ini semakin terasa ketika sistem CRM yang digunakan berdiri sendiri, tidak terintegrasi dengan sistem ERP yang menjalankan proses bisnis inti seperti keuangan, inventori, dan produksi. Akibatnya, sales tidak punya visibilitas real-time terhadap ketersediaan stok atau histori transaksi pelanggan saat menawarkan produk, sementara tim customer service kesulitan memberikan solusi cepat karena harus berpindah-pindah sistem untuk melihat data lengkap seorang pelanggan.
- Apa itu SAP Customer Experience (SAP CX)?
- Tujuan SAP Customer Experience
- Fitur SAP Customer Experience
- Bagaimana Cara Kerja SAP Customer Experience?
- Posisi SAP CX dalam SAP Business Suite
- Manfaat SAP Customer Experience
- Contoh Kasus Implementasi di Indonesia
- Siapa yang Menggunakan SAP CX?
- Kapan Perusahaan Butuh SAP CX
- Estimasi Biaya SAP Customer Experience
- Implementasi SAP Customer Experience yang Tepat Bersama Think Tank Solusindo
Apa itu SAP Customer Experience (SAP CX)?
SAP Customer Experience, atau yang biasa disingkat SAP CX, adalah portofolio solusi berbasis cloud dari SAP yang dirancang untuk menyatukan seluruh proses yang berhubungan dengan pelanggan, mulai dari pemasaran, penjualan, hingga layanan purna jual, dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Berbeda dari sistem CRM konvensional yang umumnya hanya fokus pada pencatatan data kontak dan riwayat transaksi, SAP CX dibangun untuk memberikan pandangan 360 derajat terhadap setiap pelanggan, mencakup perilaku, preferensi, dan seluruh titik interaksi mereka dengan perusahaan Anda.
Solusi ini sebelumnya dikenal dengan nama SAP C/4HANA, hasil pengembangan SAP dari akuisisi beberapa platform seperti Hybris, Gigya, CallidusCloud, dan Coresystems yang dilakukan antara tahun 2013 hingga 2018. Nama “C/4HANA” sendiri merujuk pada “Customer” sebagai fokus utamanya, generasi keempat sistem manajemen pelanggan, dan HANA sebagai basis data in-memory yang menjalankannya. Seiring waktu, SAP kemudian me-rebranding suite ini menjadi SAP Customer Experience untuk mencerminkan cakupannya yang lebih luas daripada sekadar CRM tradisional.
Yang membedakan SAP CX dari solusi CRM standalone lainnya adalah kemampuannya untuk terhubung secara native dengan sistem ERP, khususnya SAP S/4HANA. Ketika data pelanggan, transaksi penjualan, dan proses back-office berjalan pada satu ekosistem yang sama, perusahaan Anda bisa memberikan pengalaman pelanggan yang konsisten di setiap titik kontak, tanpa perlu melakukan integrasi manual antar sistem yang terpisah.
Tujuan SAP Customer Experience
Kehadiran SAP Customer Experience pada dasarnya menjawab satu masalah mendasar yang dihadapi banyak perusahaan menengah-besar, yaitu terputusnya alur informasi pelanggan antar departemen. Ada beberapa tujuan utama yang mendasari kehadiran solusi ini bagi perusahaan Anda.
- Menyatukan data pelanggan lintas departemen
SAP CX menyatukan seluruh proses customer-facing ke dalam satu platform terintegrasi, sehingga tim sales, marketing, dan service memiliki akses ke data pelanggan yang sama secara real-time, tanpa perlu bertanya ulang atau mencari-cari di sistem lain. - Menjembatani proses front-office dengan back-office
Melalui integrasi native ke SAP S/4HANA, keputusan yang diambil tim customer-facing, seperti penawaran harga khusus atau estimasi waktu pengiriman, selalu didasarkan pada data operasional yang akurat dan terkini, bukan asumsi atau data yang sudah usang. - Mendorong transisi ke hubungan pelanggan jangka panjang
Tujuan strategis dari SAP CX adalah membantu perusahaan Anda bertransisi dari pendekatan transaksional menuju model bisnis yang berorientasi pada hubungan jangka panjang dengan pelanggan, di mana setiap interaksi dikelola secara konsisten dan didukung oleh data yang terpadu di seluruh siklus hidup pelanggan.
Fitur SAP Customer Experience
Di balik kelima komponennya, SAP Customer Experience dilengkapi dengan berbagai fitur yang dirancang untuk mendukung setiap tahap interaksi dengan pelanggan, mulai dari akuisisi, konversi, hingga retensi jangka panjang. Berikut beberapa fitur utama yang tersedia dalam SAP CX.
SAP Sales Cloud untuk Visibilitas 360°
Modul ini memberikan tim sales satu tampilan menyeluruh atas setiap pelanggan, mulai dari riwayat interaksi, transaksi, hingga preferensi, sehingga penawaran yang diberikan lebih relevan dan tidak lagi didasarkan pada data yang terpisah-pisah.
- Tampilan 360° riwayat dan transaksi pelanggan
- Panduan penjualan berbasis data real-time
- Integrasi langsung dengan proses ERP untuk cek stok dan harga
SAP Service Cloud untuk Layanan Omnichannel
Tim customer service dapat menangani pertanyaan pelanggan dari berbagai kanal, seperti email, chat, telepon, hingga media sosial, dalam satu dashboard terpadu, lengkap dengan riwayat interaksi sebelumnya agar solusi yang diberikan lebih cepat dan tepat.
- Manajemen tiket lintas kanal dalam satu dashboard
- Riwayat interaksi pelanggan yang selalu tersedia
- Rekomendasi solusi otomatis berbasis kasus sebelumnya
SAP Emarsys untuk Marketing yang Dipersonalisasi
Fitur ini memungkinkan tim marketing merancang kampanye yang disesuaikan dengan perilaku dan preferensi tiap pelanggan secara otomatis, mulai dari email, push notification, hingga rekomendasi produk, tanpa perlu proses manual yang memakan waktu.
- Segmentasi pelanggan otomatis berbasis perilaku
- Kampanye personalisasi di berbagai kanal sekaligus
- Pengukuran efektivitas kampanye secara real-time
SAP Customer Data Cloud untuk Data yang Aman
Seluruh data pelanggan dikumpulkan dan dikelola dengan persetujuan (consent) yang transparan, memastikan perusahaan tetap patuh terhadap regulasi privasi data sekaligus membangun kepercayaan pelanggan terhadap penggunaan data mereka.
- Manajemen consent dan preferensi privasi pelanggan
- Identitas pelanggan terpadu (single customer identity)
- Kepatuhan terhadap regulasi privasi data yang berlaku
Integrasi Commerce untuk Pengalaman Belanja Terpadu
Data produk, harga, dan inventaris tersinkron secara konsisten antara kanal penjualan digital dan tim sales atau customer service, sehingga pelanggan mendapatkan pengalaman yang sama baik saat berbelanja online maupun berinteraksi langsung dengan perusahaan.
- Sinkronisasi data produk dan harga lintas kanal
- Konsistensi pengalaman antara online dan tim internal
- Visibilitas stok real-time saat proses penjualan
Integrasi Native dengan SAP ERP / S/4HANA
Karena dibangun di atas ekosistem SAP, seluruh data pelanggan dapat terhubung langsung dengan proses inti bisnis seperti keuangan, inventori, dan produksi, sehingga setiap tim dapat mengambil keputusan berbasis data yang sama dan akurat.
- Koneksi real-time dengan proses keuangan dan inventori
- Satu sumber data yang konsisten antar sistem
- Mengurangi duplikasi input data antar departemen
Bagaimana Cara Kerja SAP Customer Experience?
SAP Customer Experience bekerja dengan menyatukan data pelanggan dari berbagai titik interaksi ke dalam satu platform terpusat yang terhubung langsung dengan sistem inti perusahaan. Setiap kali pelanggan berinteraksi, baik saat membuka email marketing, melakukan pembelian di toko online, mengajukan pertanyaan ke customer service, maupun berbicara dengan tim sales, data tersebut otomatis tercatat dan diperbarui secara real-time ke dalam satu profil pelanggan yang sama.
Profil terpadu ini kemudian menjadi acuan bersama bagi seluruh tim customer-facing. Tim sales, misalnya, bisa melihat riwayat transaksi dan preferensi pelanggan sebelum melakukan penawaran, sementara tim marketing dapat menyusun kampanye berdasarkan perilaku aktual pelanggan, bukan asumsi semata. Di sisi lain, tim customer service dapat langsung mengakses konteks lengkap seorang pelanggan begitu ada tiket masuk, sehingga tidak perlu lagi bertanya ulang riwayat interaksi yang sudah pernah terjadi.

Yang membedakan SAP CX dari platform CRM lain adalah integrasinya yang native dengan SAP S/4HANA dan modul ERP lainnya. Artinya, data yang ditampilkan bukan hanya data interaksi, tapi juga data operasional seperti ketersediaan stok, status pengiriman, hingga riwayat pembayaran, yang semuanya ditarik langsung dari sistem yang sama tanpa perlu proses integrasi tambahan dari pihak ketiga.
Baca juga: Pengertian SAP Sales and Distribution (SD), Fungsi, dan Cara Kerjanya
Posisi SAP CX dalam SAP Business Suite
SAP Customer Experience tidak berdiri sendiri sebagai aplikasi terpisah, melainkan menjadi salah satu pilar dalam SAP Business Suite, ekosistem solusi SAP yang saling terintegrasi untuk mendukung seluruh proses bisnis perusahaan, mulai dari front-office hingga back-office. Dalam struktur ini, SAP CX berperan sebagai lapisan front-office yang menangani interaksi langsung dengan pelanggan, sementara proses inti seperti keuangan, produksi, dan rantai pasok dijalankan oleh SAP S/4HANA sebagai tulang punggung ERP.
Integrasi antara SAP CX dan S/4HANA berjalan secara native melalui SAP Business Technology Platform (BTP), yang berfungsi sebagai lapisan teknologi penghubung antar solusi SAP. Dengan fondasi ini, data yang dihasilkan dari interaksi pelanggan di SAP CX, seperti pesanan penjualan atau permintaan layanan, bisa langsung mengalir ke sistem ERP tanpa perlu proses integrasi manual yang biasanya memakan waktu dan rawan kesalahan.

Posisi ini yang membedakan SAP CX dari solusi CRM standalone di pasaran. Ketika perusahaan Anda menggunakan CRM yang terpisah dari ERP, setiap kali ada perubahan data pelanggan atau transaksi, dibutuhkan proses sinkronisasi tambahan, baik lewat integrasi custom maupun middleware pihak ketiga. Sebaliknya, karena SAP CX dan S/4HANA berada dalam satu ekosistem SAP Business Suite yang sama, konsistensi data antara front-office dan back-office terjaga secara otomatis, sehingga tim Anda bisa fokus pada strategi customer experience tanpa harus mengkhawatirkan integritas data di baliknya.
Bagi perusahaan yang sudah menjalankan atau berencana mengadopsi S/4HANA, menambahkan SAP CX ke dalam ekosistem yang sama menjadi langkah yang jauh lebih efisien dibandingkan mengintegrasikan CRM dari vendor lain ke sistem ERP yang sudah berjalan.
Baca juga: Mengenal SAP Fieldglass untuk Solusi Kelola Tenaga Kerja Eksternal di Ekosistem SAP
Manfaat SAP Customer Experience
Ketika data pelanggan sudah terhubung dalam satu ekosistem yang sama, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh tim IT yang mengurus integrasi, tapi juga langsung terasa di lini depan bisnis, mulai dari sales yang menawarkan produk, marketing yang merancang kampanye, hingga customer service yang menangani keluhan. Perusahaan yang mengadopsi SAP Customer Experience umumnya merasakan perubahan ini dalam beberapa area kunci berikut.
- Visibilitas data pelanggan yang terpusat
Seluruh tim customer-facing mengakses sumber data yang sama, sehingga tidak ada lagi silo informasi yang membuat pelanggan harus mengulang penjelasan setiap kali berpindah kontak, baik dari sales ke service maupun sebaliknya. - Pengambilan keputusan berbasis data operasional real-time
Karena terintegrasi langsung dengan SAP S/4HANA, tim sales Anda bisa menawarkan harga dan jadwal pengiriman yang akurat karena datanya langsung ditarik dari sistem ERP, bukan estimasi manual yang rawan meleset. - Personalisasi kampanye yang lebih tajam
Data perilaku pelanggan yang digunakan tim marketing sudah tersinkronisasi dengan riwayat transaksi dan interaksi di seluruh kanal, sehingga kampanye yang dijalankan lebih relevan dengan kebutuhan masing-masing segmen pelanggan. - Pengurangan biaya operasional jangka panjang
Satu ekosistem yang sudah saling terhubung sejak awal mengurangi kebutuhan maintenance dan troubleshooting integrasi, dibandingkan menggabungkan beberapa software CRM standalone dari vendor berbeda. - Fleksibilitas untuk berkembang
Karena berjalan di atas platform cloud, komponen baru bisa ditambahkan secara bertahap tanpa harus membangun ulang infrastruktur dari awal, sehingga investasi yang dilakukan tetap relevan seiring pertumbuhan perusahaan.
Baca juga: Mengenal SAP Joule Sebagai AI Copilot yang Mengubah Cara Kerja di SAP
Contoh Kasus Implementasi di Indonesia
Salah satu contoh nyata implementasi SAP Customer Experience di Indonesia datang dari Sinarmas Land, perusahaan properti yang tercatat sebagai perusahaan pertama di industri properti Tanah Air yang mengadopsi solusi Customer Relationship Management dari SAP. Perusahaan ini mengimplementasikan SAP Customer Data Cloud yang diintegrasikan dengan SAP Marketing Cloud serta SAP Sales & Service Cloud, untuk menjalankan strategi pemasaran yang berbasis data konsumen secara lebih terarah.
Menurut keterangan Managing Director SAP Indonesia yang dikutip SWA.co.id, implementasi ini membantu Sinarmas Land memperoleh data dan informasi dari konsumen yang lebih lengkap, sehingga perusahaan dapat menarik konsumen baru sekaligus memahami kebutuhan dan tingkat kepuasan pelanggan yang sudah ada secara lebih mendalam.

Langkah ini relevan mengingat industri properti umumnya memiliki siklus penjualan yang panjang, dengan banyak titik interaksi antara calon pembeli dan tim marketing maupun sales sebelum keputusan pembelian akhirnya diambil. Dengan sistem yang saling terintegrasi, Sinarmas Land dapat memantau perjalanan setiap prospek secara konsisten, alih-alih mengandalkan pencatatan manual yang rawan kehilangan konteks di tengah proses penjualan yang kompleks.
Kasus ini menunjukkan bahwa manfaat SAP CX tidak terbatas pada sektor manufaktur atau distribusi saja, tetapi juga relevan bagi industri lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa dalam mengelola hubungan pelanggan jangka panjang.
Baca Juga: Software Sales dan CRM untuk Kelola Pipeline Penjualan Lebih Optimal
Siapa yang Menggunakan SAP CX?
SAP Customer Experience dirancang untuk perusahaan menengah hingga besar yang memiliki proses customer-facing yang kompleks dan volume interaksi pelanggan yang tinggi di berbagai kanal. Berikut profil perusahaan dan peran yang umumnya menggunakan SAP CX.
- Perusahaan manufaktur, distribusi, dan retail yang menjalankan proses penjualan B2B maupun B2C dalam skala besar, di mana visibilitas real-time terhadap stok dan histori transaksi pelanggan menjadi faktor penentu kecepatan closing.
- Perusahaan properti, seperti yang terlihat pada implementasi di Sinarmas Land, yang memanfaatkan SAP CX untuk mengelola data prospek dan preferensi konsumen dalam siklus penjualan yang panjang.
- Perusahaan jasa keuangan dan asuransi yang membutuhkan setiap interaksi dengan nasabah, mulai dari akuisisi hingga layanan purna jual, tercatat dan terhubung dalam satu sistem yang sama.
- CEO atau pemilik bisnis yang ingin meningkatkan daya saing melalui pengalaman pelanggan yang lebih personal.
- IT Director atau IT Manager yang bertanggung jawab memastikan solusi tersebut terintegrasi dengan baik ke dalam ekosistem ERP yang sudah berjalan.
Perusahaan yang sudah menjalankan atau berencana mengadopsi SAP S/4HANA menjadi kandidat paling ideal untuk implementasi SAP CX, karena nilai integrasi native antara kedua sistem ini baru terasa maksimal ketika keduanya berjalan dalam satu ekosistem SAP Business Suite yang sama.
Baca juga: Mengenal SAP Commerce Cloud untuk Platform E-Commerce Terintegrasi untuk Perusahaan
Kapan Perusahaan Butuh SAP CX
Tidak semua perusahaan membutuhkan solusi selengkap SAP Customer Experience sejak awal. Ada beberapa indikator yang bisa menjadi acuan bagi perusahaan Anda untuk menilai apakah sudah saatnya beralih dari CRM sederhana menuju ekosistem SAP CX yang lebih menyeluruh.
- Data pelanggan mulai tersebar di berbagai sistem yang tidak saling terhubung
Tim sales, marketing, dan service masing-masing bekerja dengan tools terpisah, sementara pelanggan yang sama harus mengulang informasi setiap kali berpindah kontak. - Kebutuhan integrasi real-time dengan sistem ERP
Proses penjualan sangat bergantung pada data operasional seperti ketersediaan stok, harga dinamis, atau jadwal produksi, sehingga CRM yang berdiri sendiri tanpa koneksi langsung ke ERP mulai menghambat kecepatan kerja tim. - Skala volume interaksi pelanggan yang terus bertambah
Jumlah transaksi dan titik kontak yang harus dikelola di berbagai kanal, mulai dari e-commerce, tim sales lapangan, hingga pusat layanan pelanggan, sudah terlalu besar untuk ditangani sistem yang terpisah-pisah. - Sudah menjalankan atau berencana mengadopsi SAP S/4HANA sebagai backbone ERP.
Kedua sistem ini dirancang untuk saling melengkapi dalam satu ekosistem SAP Business Suite, sehingga nilai integrasinya baru terasa maksimal ketika keduanya berjalan bersamaan.
Sebaliknya, jika perusahaan Anda masih dalam skala yang relatif kecil dengan proses customer-facing yang sederhana, atau belum memiliki rencana mengadopsi ekosistem SAP, CRM standalone yang lebih ringan mungkin masih mencukupi untuk saat ini.
Baca juga: Panduan Lengkap SAP Build Work Zone untuk Menyatukan Akses Kerja Perusahaan
Estimasi Biaya SAP Customer Experience
Biaya implementasi SAP Customer Experience sangat bervariasi tergantung komponen yang dipilih, jumlah pengguna, skala data pelanggan yang dikelola, serta tingkat kompleksitas integrasi dengan sistem ERP yang sudah berjalan di perusahaan Anda. Karena itu, SAP tidak mempublikasikan daftar harga tetap dan setiap penawaran umumnya dinegosiasikan sesuai kebutuhan spesifik masing-masing perusahaan.
Beberapa faktor utama yang memengaruhi total biaya SAP CX antara lain:
- Jumlah komponen yang diimplementasikan
Semakin banyak modul yang diadopsi sekaligus, misalnya Sales Cloud, Service Cloud, dan Marketing Cloud secara bersamaan, semakin besar pula total biaya lisensinya, meski biasanya tersedia diskon bundling dibanding membeli satu per satu. - Jumlah pengguna (user license).
Sebagian besar komponen SAP CX menggunakan skema harga per pengguna per bulan, sehingga biaya akan meningkat seiring bertambahnya jumlah tim sales, marketing, atau service yang mengakses sistem. - Kompleksitas integrasi dengan SAP S/4HANA
Perusahaan yang sudah menjalankan S/4HANA umumnya membutuhkan biaya integrasi lebih rendah dibandingkan perusahaan yang masih menggunakan sistem ERP lain atau bahkan belum memiliki ERP sama sekali. - Kebutuhan kustomisasi dan migrasi data
Proses migrasi data pelanggan dari sistem lama, serta kustomisasi alur kerja sesuai proses bisnis spesifik, turut menambah biaya implementasi di luar biaya lisensi. - Durasi kontrak
Kontrak jangka panjang (3-36 bulan) biasanya menawarkan harga per bulan yang lebih kompetitif dibandingkan kontrak jangka pendek.
Sama seperti modul SAP lainnya, biaya SAP Customer Experience sangat bergantung pada kombinasi produk yang diaktifkan, seperti Sales Cloud, Service Cloud, Commerce Cloud, Emarsys, atau Customer Data Cloud, serta jumlah user dan skala transaksi yang ditangani. Model lisensinya sendiri berbasis subscription per user maupun per volume transaksi, sehingga tidak ada satu angka pasti yang berlaku untuk semua perusahaan.
Untuk memberikan gambaran kasar, berikut simulasi kisaran biaya berdasarkan skala perusahaan, merujuk pada halaman resmi plans and pricing SAP Service Cloud, analisis independen dari Spadoom mengenai biaya lisensi SAP Sales Cloud V2, riset TCO dari CostBench untuk SAP Commerce Cloud, serta simulasi biaya dari ITQlick untuk SAP Cloud for Service.
| Skenario | Model Lisensi | Estimasi Biaya Lisensi Tahunan* | Estimasi Biaya Implementasi Tahun Pertama** |
|---|---|---|---|
| Perusahaan menengah | SAP Sales Cloud V2 standalone, subscription per user, 20–30 user tanpa modul commerce | Sekitar USD 15.000–25.000 per tahun | USD 30.000–70.000 |
| Menengah-atas | Kombinasi Sales Cloud + Service Cloud, 50–100 user, dengan add-on dasar seperti CPQ | Sekitar USD 70.000–150.000 per tahun | USD 200.000–400.000 |
| Perusahaan besar | Full CX suite (Sales Cloud, Service Cloud, Commerce Cloud Standard/Premium) terintegrasi dengan S/4HANA | Sekitar USD 400.000–900.000 per tahun | USD 500.000–1.000.000, umumnya 1–3 kali biaya lisensi tahunan |
| Enterprise skala global | RISE with SAP CX suite, multi-region, omnichannel B2B/B2C dengan volume transaksi besar | Tidak dihitung secara flat, mengikuti volume GMV dan modul aktif (bisa mencapai USD 2.000.000–4.000.000 per tahun) | Negosiasi langsung dengan SAP |
*Estimasi lisensi tahunan dihitung dari kisaran harga per user/bulan dan simulasi TCO menurut riset independen, belum termasuk add-on, modul tambahan, atau biaya infrastruktur. **Estimasi implementasi mencakup konfigurasi, migrasi data, dan pendampingan tim, umumnya berlangsung 4–8 bulan untuk skala menengah hingga 12–18 bulan untuk skala enterprise.
Catatan penting, seluruh angka simulasi di atas merujuk pada riset independen dan estimator pihak ketiga, bukan daftar harga resmi dari SAP. Biaya aktual dapat berbeda signifikan tergantung kombinasi modul yang diaktifkan, jumlah user, region hyperscaler, serta hasil negosiasi saat perusahaan mengajukan penawaran ke SAP atau partner implementasi. Rincian lebih dalam soal celah harga dan taktik negosiasi lisensi juga bisa dilihat di panduan lisensing SAP Sales Cloud dan Service Cloud dari SAP Licensing Experts, yang membahas struktur edisi dan modul add-on secara lebih rinci.
Selain biaya lisensi, perusahaan juga perlu memperhitungkan biaya implementasi yang mencakup integrasi data dari sistem SAP maupun non-SAP, konfigurasi alur kerja sales dan service, migrasi data pelanggan dari CRM lama, hingga pendampingan tim pasca go-live. Menurut ulasan mendalam dari Softabase soal biaya implementasi SAP Customer Experience, deployment skala menengah dengan satu modul saja bisa memakan waktu 4–8 bulan, sementara proyek yang mencakup beberapa modul CX sekaligus integrasi penuh dengan S/4HANA bisa berlangsung 12–18 bulan.

Implementasi SAP Customer Experience yang Tepat Bersama Think Tank Solusindo
Mengadopsi SAP Customer Experience bukan sekadar keputusan memilih software CRM baru, melainkan langkah strategis yang membutuhkan perencanaan matang, mulai dari pemilihan komponen yang tepat hingga proses integrasi dengan sistem yang sudah berjalan di perusahaan Anda. Karena itu, keberadaan partner implementasi yang berpengalaman menjadi faktor penentu keberhasilan proyek, terutama untuk memastikan konfigurasi setiap modul benar-benar sesuai dengan proses bisnis dan kebutuhan spesifik organisasi Anda.
Sebagai authorized partner SAP di Indonesia, Think Tank Solusindo mendampingi perusahaan Anda mulai dari tahap konsultasi kebutuhan, pemilihan komponen SAP CX yang paling relevan, proses implementasi, hingga dukungan pasca-implementasi untuk memastikan sistem berjalan optimal dalam jangka panjang.
Nilai SAP Customer Experience akan terasa maksimal ketika terintegrasi penuh dengan SAP S/4HANA sebagai backbone ERP perusahaan Anda. Dalam hal ini, Anda bisa mempertimbangkan dua pendekatan adopsi, yaitu GROW with SAP untuk perusahaan yang ingin memulai dari cloud dengan pendekatan standar, atau RISE with SAP bagi perusahaan yang membutuhkan transformasi menyeluruh dengan fleksibilitas lebih besar.
Hubungi tim kami untuk konsultasi lebih lanjut mengenai implementasi SAP Customer Experience yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda.
