Make to Stock (MTS) untuk Strategi Produksi Berbasis Stok untuk Manufaktur
Make to Stock adalah strategi produksi dalam industri manufaktur yang memungkinkan perusahaan memproduksi barang berdasarkan perkiraan permintaan pasar sebelum menerima pesanan pelanggan. Strategi ini membantu perusahaan menjaga ketersediaan produk agar pesanan dapat dipenuhi lebih cepat tanpa harus menunggu proses produksi dimulai. Namun, penerapannya membutuhkan perencanaan yang akurat karena produksi berlebih dapat meningkatkan risiko kelebihan stok, sedangkan produksi yang terlalu sedikit berpotensi menyebabkan kekurangan persediaan.
Dalam operasional manufaktur, keberhasilan Make to Stock tidak hanya bergantung pada kemampuan memperkirakan permintaan, tetapi juga pada pengelolaan persediaan, ketersediaan material, dan perencanaan kapasitas produksi. Ketika proses tersebut masih berjalan secara terpisah, perusahaan dapat mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan target produksi dengan kebutuhan pasar. Oleh karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan penggunaan sistem ERP yang mengintegrasikan perencanaan produksi dan pengelolaan stok agar keputusan operasional lebih terarah.
- Apa Itu Make to Stock?
- Bagaimana Cara Kerja Make to Stock?
- Contoh Penerapan Make to Stock dalam Industri Manufaktur
- Apa Saja Manfaat Make to Stock?
- Kelebihan dan Kekurangan Make to Stock
- Make to Stock vs Make to Order
- Strategi Mengoptimalkan Make to Stock dalam Manufaktur
- Produk SAP yang Mendukung Penerapan Make to Stock
- Implementasikan Software SAP untuk Mendukung Strategi Make to Stock Bersama Think Tank Solusindo
Apa Itu Make to Stock?
Make to Stock (MTS) adalah strategi produksi ketika perusahaan membuat barang berdasarkan perkiraan permintaan pasar, kemudian menyimpan produk jadi sebagai persediaan sebelum menerima pesanan pelanggan. Strategi ini banyak digunakan dalam industri manufaktur yang menghasilkan produk dengan permintaan relatif rutin dan spesifikasi yang cenderung standar. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat menyiapkan produk lebih awal sehingga barang tersedia ketika pelanggan membutuhkannya.
Dalam penerapannya, Make to Stock mengandalkan demand forecasting atau peramalan permintaan sebagai dasar untuk menentukan jumlah produk yang perlu dibuat. Perusahaan perlu mempertimbangkan data penjualan historis, tren pasar, tingkat persediaan, serta kapasitas produksi agar jumlah barang yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan. Perencanaan yang kurang akurat dapat menyebabkan penumpukan persediaan atau kekurangan stok yang menghambat pemenuhan pesanan.
Oleh karena itu, Make to Stock tidak hanya berkaitan dengan proses menghasilkan barang dalam jumlah tertentu, tetapi juga membutuhkan koordinasi antara perencanaan produksi, pengelolaan persediaan, dan pemenuhan permintaan pelanggan. Dalam lingkungan manufaktur dengan banyak jenis produk dan volume produksi yang tinggi, sistem ERP dapat membantu mengintegrasikan data tersebut sehingga perusahaan memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap kebutuhan produksi dan ketersediaan barang.
Karakteristik Make to Stock
Make to Stock memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari strategi produksi lain, terutama dalam hal dasar perencanaan dan pengelolaan persediaan.
- Produksi berdasarkan perkiraan permintaan
Perusahaan menentukan rencana produksi menggunakan hasil peramalan permintaan, data penjualan sebelumnya, dan tren pasar, bukan hanya berdasarkan pesanan yang sudah diterima. - Produk jadi disimpan sebagai persediaan
Barang diproduksi terlebih dahulu dan ditempatkan di gudang agar dapat segera dikirim ketika pesanan pelanggan masuk. - Spesifikasi produk cenderung standar
Strategi ini umumnya sesuai untuk produk yang memiliki spesifikasi relatif konsisten dan diproduksi secara berulang dalam volume tertentu. - Persediaan perlu dipantau secara berkala
Perusahaan harus memastikan jumlah stok mencukupi untuk memenuhi permintaan tanpa menimbulkan biaya penyimpanan berlebihan. - Perencanaan produksi membutuhkan data yang akurat
Informasi permintaan, persediaan, dan kapasitas produksi perlu dikelola secara konsisten agar keputusan produksi tetap sesuai dengan kondisi bisnis.
Tujuan Penerapan Make to Stock
Tujuan utama Make to Stock adalah menjaga ketersediaan produk agar perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan dengan lebih cepat. Namun, strategi ini juga mendukung beberapa tujuan operasional lainnya.
- Mempercepat pemenuhan pesanan
Produk telah tersedia sebagai barang jadi sehingga perusahaan tidak perlu menunggu seluruh proses produksi selesai setelah pesanan diterima. - Meningkatkan perencanaan kapasitas produksi
Perusahaan dapat menyusun jadwal produksi berdasarkan proyeksi kebutuhan pasar dan merencanakan penggunaan mesin, tenaga kerja, serta sumber daya lainnya. - Menjaga keseimbangan persediaan
Perencanaan yang baik membantu perusahaan menyesuaikan jumlah produksi dengan kebutuhan sehingga risiko kelebihan maupun kekurangan stok dapat dikurangi. - Mendukung efisiensi operasional
Produksi dalam volume yang terencana dapat membantu perusahaan mengatur penggunaan sumber daya dan mengurangi perubahan jadwal produksi yang tidak perlu. - Meningkatkan kepuasan pelanggan
Ketersediaan produk yang memadai membantu perusahaan merespons pesanan secara lebih cepat dan menjaga konsistensi layanan.
Bagaimana Cara Kerja Make to Stock?
Cara kerja Make to Stock dimulai dari peramalan permintaan untuk memperkirakan jumlah produk yang dibutuhkan pasar dalam periode tertentu. Perusahaan menganalisis data penjualan historis, tren permintaan, pola musiman, dan informasi pasar sebagai dasar penyusunan rencana produksi. Hasil peramalan tersebut digunakan untuk menentukan target produksi dengan mempertimbangkan kapasitas mesin, tenaga kerja, ketersediaan bahan baku, serta jumlah persediaan yang masih tersedia.

Setelah rencana produksi ditetapkan, perusahaan menyiapkan material dan menjalankan proses manufaktur sesuai jadwal yang telah direncanakan. Produk yang selesai diproduksi kemudian melewati pemeriksaan kualitas sebelum dicatat sebagai persediaan barang jadi di gudang. Pada tahap ini, perusahaan perlu memantau pergerakan stok secara berkala untuk memastikan jumlah produk yang tersedia sesuai dengan kebutuhan dan target persediaan. Jika stok mulai mendekati batas minimum, perusahaan dapat mengevaluasi kebutuhan produksi berikutnya berdasarkan perkiraan permintaan terbaru.
Ketika pesanan pelanggan masuk, perusahaan memeriksa ketersediaan barang jadi dan menyiapkan proses pengiriman sesuai jumlah yang dipesan. Karena produk telah diproduksi sebelumnya, pemenuhan pesanan dapat dilakukan tanpa harus menunggu seluruh proses manufaktur selesai. Setelah barang keluar dari gudang, data persediaan perlu diperbarui agar perusahaan memiliki informasi stok yang akurat untuk perencanaan selanjutnya. Integrasi data permintaan, produksi, dan persediaan melalui sistem ERP dapat membantu perusahaan memantau setiap tahap tersebut secara lebih konsisten serta menyesuaikan rencana produksi ketika kondisi pasar berubah.
Contoh Penerapan Make to Stock dalam Industri Manufaktur
Make to Stock banyak diterapkan oleh perusahaan manufaktur yang menghasilkan produk dengan permintaan relatif rutin dan spesifikasi standar. Dalam model ini, perusahaan memperkirakan kebutuhan pasar terlebih dahulu, kemudian memproduksi barang untuk disimpan sebagai persediaan sebelum pesanan pelanggan diterima. Penerapannya dapat ditemukan di berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman hingga produk kebutuhan rumah tangga.
| Industri | Contoh Produk | Penerapan Make to Stock |
|---|---|---|
| Makanan dan minuman | Makanan kemasan, minuman botol, dan produk kalengan | Perusahaan merencanakan produksi berdasarkan proyeksi permintaan, tren penjualan, dan pola musiman agar produk tersedia di distributor atau toko. |
| Produk kebutuhan rumah tangga | Deterjen, sabun, dan cairan pembersih | Produk diproduksi secara berulang dalam volume tertentu untuk menjaga ketersediaan stok di berbagai saluran distribusi. |
| Farmasi dan produk kesehatan | Obat bebas dan produk kesehatan tertentu | Perusahaan merencanakan produksi berdasarkan perkiraan kebutuhan pasar dengan tetap memperhatikan persyaratan kualitas, masa simpan, dan regulasi yang berlaku. |
| Elektronik konsumen | Aksesori elektronik standar dan perangkat dengan spesifikasi tetap | Produk disiapkan berdasarkan perkiraan permintaan agar dapat segera didistribusikan ketika pesanan masuk. |
| Material bangunan | Semen kemasan, cat dengan varian standar, dan produk konstruksi tertentu | Perusahaan menyiapkan stok berdasarkan proyeksi permintaan dari distributor dan kebutuhan pasar konstruksi. |
Meskipun dapat diterapkan pada berbagai industri, keberhasilan Make to Stock bergantung pada akurasi peramalan permintaan dan pengendalian persediaan. Produk yang memiliki masa simpan pendek, permintaan yang sangat fluktuatif, atau spesifikasi yang sering berubah membutuhkan perencanaan lebih cermat agar risiko barang tidak terjual atau stok berlebih dapat dikurangi. Karena itu, perusahaan perlu menyesuaikan volume dan jadwal produksi dengan karakteristik produk serta pola permintaan masing-masing.
Apa Saja Manfaat Make to Stock?
Penerapan Make to Stock dapat membantu perusahaan manufaktur mengatur kegiatan produksi secara lebih terencana karena proses pembuatan barang dilakukan berdasarkan perkiraan permintaan. Jika didukung oleh peramalan yang akurat dan pengelolaan persediaan yang baik, strategi ini dapat memberikan sejumlah manfaat bagi kelancaran operasional dan pemenuhan kebutuhan pelanggan.
- Mempercepat Pemenuhan Pesanan Pelanggan
Produk yang sudah selesai diproduksi dan tersedia di gudang dapat langsung diproses untuk pengiriman ketika pesanan diterima. Perusahaan tidak perlu menunggu proses manufaktur dimulai dari awal untuk setiap pesanan. Hal ini membantu memperpendek waktu pemenuhan pesanan dan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam merespons kebutuhan pelanggan. - Mendukung Perencanaan Produksi yang Lebih Terstruktur
Dengan menggunakan proyeksi permintaan sebagai dasar perencanaan, perusahaan dapat menyusun jadwal produksi, menentukan target output, serta mengalokasikan mesin dan tenaga kerja secara lebih terarah. Perencanaan yang terstruktur juga membantu perusahaan mengatur urutan produksi dan mengurangi perubahan jadwal yang tidak diperlukan. - Meningkatkan Efisiensi Penggunaan Kapasitas Produksi
Make to Stock memungkinkan perusahaan merencanakan kegiatan produksi untuk periode tertentu berdasarkan kebutuhan yang diperkirakan. Pendekatan ini dapat membantu perusahaan mengoptimalkan penggunaan mesin, tenaga kerja, dan sumber daya produksi lainnya. Namun, efisiensi tetap bergantung pada ketepatan perencanaan dan kesesuaian kapasitas dengan permintaan aktual. - Menjaga Ketersediaan Produk di Pasar
Perusahaan dapat menyiapkan persediaan barang jadi sebelum permintaan aktual diterima sehingga produk lebih siap didistribusikan ketika dibutuhkan. Ketersediaan stok yang terencana membantu mengurangi risiko kehilangan penjualan akibat produk tidak tersedia, terutama untuk barang dengan tingkat permintaan yang relatif stabil. - Membantu Pengendalian Persediaan
Perencanaan produksi berdasarkan perkiraan permintaan memberikan dasar bagi perusahaan untuk menentukan jumlah stok yang perlu disiapkan. Dengan memantau tingkat persediaan dan pola penjualan secara berkala, perusahaan dapat menyesuaikan rencana produksi agar risiko kelebihan stok maupun kekurangan barang dapat ditekan. Pengendalian ini juga penting untuk mengelola biaya penyimpanan dan mengurangi risiko produk menjadi usang atau melewati masa simpannya. - Meningkatkan Konsistensi Pemenuhan Permintaan
Ketika rencana produksi, persediaan, dan distribusi dikelola secara selaras, perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi pesanan sesuai kebutuhan pelanggan. Konsistensi tersebut membantu menjaga kelancaran hubungan dengan distributor maupun pelanggan bisnis, khususnya pada industri yang membutuhkan ketersediaan produk secara berkelanjutan.
Kelebihan dan Kekurangan Make to Stock
Make to Stock memberikan keuntungan bagi perusahaan manufaktur yang perlu menjaga ketersediaan produk dan memenuhi pesanan dalam waktu singkat. Namun, strategi ini juga memiliki risiko karena keputusan produksi dibuat berdasarkan perkiraan permintaan, bukan hanya pesanan aktual. Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami kelebihan dan kekurangannya sebelum menentukan apakah pendekatan ini sesuai dengan karakteristik bisnis.
| Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|
| Waktu pemenuhan pesanan lebih singkat karena produk telah tersedia sebagai persediaan barang jadi ketika pesanan diterima. | Risiko kelebihan stok apabila permintaan aktual lebih rendah daripada perkiraan sehingga barang menumpuk di gudang. |
| Jadwal produksi lebih terencana karena perusahaan dapat menyusun target produksi berdasarkan proyeksi permintaan dan periode tertentu. | Bergantung pada akurasi peramalan sehingga perubahan tren pasar atau permintaan yang tidak terduga dapat mengganggu rencana produksi. |
| Penggunaan sumber daya lebih terarah melalui perencanaan kebutuhan mesin, tenaga kerja, dan material sebelum produksi berlangsung. | Biaya penyimpanan meningkat ketika perusahaan harus mempertahankan persediaan barang jadi dalam jumlah besar. |
| Ketersediaan produk lebih terjaga sehingga perusahaan dapat merespons pesanan pelanggan dan kebutuhan distributor dengan lebih cepat. | Risiko produk usang atau kedaluwarsa, terutama untuk produk yang memiliki masa simpan terbatas atau mengalami perubahan spesifikasi. |
| Produksi berulang lebih mudah dijadwalkan untuk produk dengan spesifikasi standar dan permintaan relatif stabil. | Fleksibilitas terhadap permintaan khusus lebih terbatas karena produksi berfokus pada produk yang telah direncanakan sebelumnya. |
Secara keseluruhan, Make to Stock lebih sesuai untuk perusahaan yang memiliki pola permintaan relatif dapat diprediksi dan membutuhkan ketersediaan produk secara konsisten. Sebaliknya, perusahaan dengan permintaan yang sangat fluktuatif atau produk yang sering disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan perlu mempertimbangkan risiko persediaan secara lebih cermat. Ketepatan peramalan, pengendalian stok, dan kemampuan menyesuaikan rencana produksi menjadi faktor penting untuk memperoleh manfaat dari strategi ini.
Make to Stock vs Make to Order
Make to Stock (MTS) dan Make to Order (MTO) merupakan dua strategi produksi yang dibedakan berdasarkan waktu dimulainya produksi terhadap pesanan pelanggan. Make to Stock mengandalkan perkiraan permintaan untuk memproduksi barang sebelum pesanan diterima, sedangkan Make to Order memulai produksi berdasarkan pesanan aktual. Perbedaan ini memengaruhi cara perusahaan merencanakan produksi, mengelola persediaan, dan memenuhi kebutuhan pelanggan.
| Aspek Perbandingan | Make to Stock (MTS) | Make to Order (MTO) |
|---|---|---|
| Dasar produksi | Berdasarkan perkiraan permintaan pasar (demand forecasting). | Berdasarkan pesanan aktual pelanggan. |
| Waktu produksi | Produk dibuat sebelum pesanan diterima. | Produksi dimulai setelah pesanan diterima. |
| Persediaan barang jadi | Barang jadi disimpan sebagai stok sebelum terjual. | Barang jadi umumnya tidak disiapkan sebagai stok untuk memenuhi pesanan tertentu sebelum pesanan masuk. |
| Waktu pemenuhan pesanan | Cenderung lebih singkat karena produk dapat langsung disiapkan dari stok yang tersedia. | Cenderung lebih lama karena pelanggan perlu menunggu proses produksi selesai. |
| Karakteristik produk | Umumnya produk standar dengan spesifikasi relatif tetap. | Umumnya produk yang membutuhkan spesifikasi khusus atau penyesuaian berdasarkan pesanan. |
| Risiko persediaan | Risiko kelebihan atau kekurangan stok akibat ketidakakuratan perkiraan permintaan. | Risiko penumpukan barang jadi lebih rendah, tetapi persediaan bahan baku dan kapasitas produksi tetap perlu dikelola. |
| Perencanaan produksi | Berfokus pada perkiraan permintaan, target stok, dan jadwal produksi. | Berfokus pada pesanan yang diterima, kebutuhan material, dan jadwal pemenuhan pesanan. |
| Contoh penerapan | Makanan kemasan, produk pembersih rumah tangga, dan produk standar dengan permintaan rutin. | Mesin dengan spesifikasi khusus, peralatan industri yang dikonfigurasi sesuai kebutuhan, dan produk pesanan khusus. |
Berdasarkan perbandingan tersebut, Make to Stock lebih sesuai ketika perusahaan perlu menyediakan produk standar dengan cepat, sedangkan Make to Order lebih relevan untuk produk yang membutuhkan penyesuaian berdasarkan kebutuhan pelanggan. Meski demikian, perusahaan tidak selalu harus memilih satu strategi untuk seluruh produknya. Produsen dapat menerapkan kombinasi keduanya pada kelompok produk yang berbeda, selama perencanaan produksi, persediaan, dan pemenuhan pesanan dikelola secara terkoordinasi.
Strategi Mengoptimalkan Make to Stock dalam Manufaktur
Make to Stock bergantung pada satu hal: produksi dilakukan sebelum pesanan datang. Karena itu, strategi yang tepat menentukan apakah perusahaan memiliki stok yang cukup atau justru menumpuk barang yang tidak terjual. Berikut tiga strategi yang dapat diterapkan.
1. Tingkatkan Akurasi Demand Forecasting
Perencanaan produksi yang baik dimulai dari peramalan permintaan yang akurat. Perusahaan dapat mengombinasikan beberapa sumber data berikut:
- Data penjualan historis sebagai dasar proyeksi volume produksi.
- Tren dan pola musiman, misalnya lonjakan permintaan menjelang hari raya atau akhir tahun.
- Perubahan perilaku pelanggan, seperti pergeseran preferensi produk atau varian.
Insight tambahan: peramalan sebaiknya dievaluasi secara berkala, misalnya bulanan, lalu dibandingkan dengan permintaan aktual. Selisih keduanya menjadi dasar menyesuaikan jadwal produksi, sehingga risiko produksi berlebihan maupun kekurangan produk jadi dapat ditekan.
2. Kelola Persediaan dan Ketersediaan Bahan Baku
Peramalan yang akurat tetap tidak cukup jika material tidak tersedia atau stok menumpuk. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Tetapkan tingkat persediaan optimal, termasuk safety stock, untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dan keterlambatan pasokan.
- Pantau stok di semua tahap, yaitu bahan baku, barang dalam proses (WIP), dan produk jadi.
- Tentukan titik pemesanan ulang (reorder point) agar pembelian material dilakukan tepat waktu.
3. Evaluasi Kinerja Secara Berkala dengan Dukungan Sistem Terintegrasi
Strategi yang sudah berjalan perlu diukur. Indikator yang umum digunakan:
| Indikator | Yang Diukur |
|---|---|
| Akurasi peramalan | Seberapa dekat prediksi dengan permintaan aktual |
| Inventory turnover | Seberapa cepat stok berputar dan terjual |
| Stockout | Seberapa sering produk habis saat dibutuhkan |
| Tingkat pemenuhan pesanan | Persentase pesanan yang terpenuhi dari stok |
Agar evaluasi lebih efektif, perusahaan dapat memanfaatkan ERP dan software manufaktur yang mengintegrasikan data perencanaan, produksi, pengadaan, dan gudang dalam satu sistem. Integrasi ini memastikan setiap tim mengakses informasi yang konsisten, sehingga keputusan operasional didasarkan pada kondisi aktual. Hasilnya, efisiensi produksi meningkat dan ketersediaan produk tetap sesuai kebutuhan pasar.
Produk SAP yang Mendukung Penerapan Make to Stock
Penerapan Make to Stock membutuhkan sistem yang mampu menghubungkan perencanaan permintaan, produksi, pengadaan material, dan pengelolaan persediaan. Perusahaan manufaktur dapat memanfaatkan beberapa solusi SAP untuk mendukung proses tersebut, mulai dari menyusun perkiraan permintaan hingga menjalankan dan memantau aktivitas produksi. Pemilihan solusi perlu disesuaikan dengan kebutuhan operasional, kompleksitas rantai pasok, dan sistem yang telah digunakan perusahaan.
SAP Integrated Business Planning (SAP IBP) mendukung Make to Stock melalui perencanaan permintaan, perencanaan pasokan, dan optimasi persediaan. Solusi ini membantu perusahaan menganalisis pola permintaan, menyelaraskan kebutuhan pasar dengan kapasitas pasokan, serta menentukan target persediaan yang sesuai. Dengan perencanaan yang lebih terintegrasi, perusahaan dapat mengantisipasi potensi kekurangan maupun kelebihan stok sebelum memengaruhi aktivitas produksi dan pemenuhan pesanan.

Sementara itu, SAP S/4HANA mendukung integrasi proses bisnis, termasuk perencanaan produksi, pengadaan, dan pengelolaan persediaan. Data yang terhubung membantu perusahaan menyelaraskan kebutuhan material dengan jadwal produksi serta memantau ketersediaan bahan baku dan produk jadi. Kapabilitas manufaktur SAP S/4HANA juga mendukung proses produksi dengan pendekatan Make to Stock, sehingga relevan bagi perusahaan yang perlu menjaga ketersediaan produk untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Pada tahap pelaksanaan produksi, SAP Digital Manufacturing membantu perusahaan mengelola dan memantau aktivitas manufaktur di lantai pabrik. Solusi ini mendukung pemantauan proses produksi, penggunaan material, dan perkembangan operasional secara lebih terperinci. Informasi dari pelaksanaan produksi dapat membantu perusahaan mengidentifikasi kendala operasional dan menjaga keselarasan antara rencana dengan realisasi produksi.

Ketiga solusi tersebut memiliki peran yang berbeda tetapi dapat saling melengkapi. SAP IBP mendukung perencanaan rantai pasok, SAP S/4HANA mengintegrasikan proses bisnis dan mendukung pelaksanaan perencanaan produksi, sedangkan SAP Digital Manufacturing berfokus pada operasional manufaktur. Integrasi solusi yang tepat membantu perusahaan mengelola Make to Stock secara lebih terkoordinasi, mulai dari perencanaan kebutuhan pasar hingga pengendalian proses produksi. Implementasinya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan arsitektur sistem perusahaan.

Implementasikan Software SAP untuk Mendukung Strategi Make to Stock Bersama Think Tank Solusindo
Make to Stock bukan sekadar strategi memproduksi barang sebelum pesanan pelanggan diterima, tetapi juga membutuhkan perencanaan permintaan dan pengelolaan persediaan yang terkoordinasi. Ketika perusahaan masih mengandalkan spreadsheet dan proses manual, perubahan demand, ketersediaan material, jadwal produksi, maupun tingkat persediaan dapat membuat proses operasional semakin kompleks. Karena itu, integrasi Make to Stock dengan sistem ERP manufaktur dapat membantu perusahaan menghubungkan perencanaan produksi dengan inventory management, material planning, procurement, hingga pelaksanaan produksi secara lebih terstruktur.
Sebagai authorized partner SAP di Indonesia, Think Tank Solusindo mendampingi perusahaan dalam mengevaluasi kebutuhan bisnis, memilih solusi SAP yang relevan, serta mendukung proses implementasi dan pengembangan sistem. Dengan pendekatan yang tepat, penerapan ERP dapat membantu perusahaan meningkatkan visibilitas terhadap permintaan, produksi, dan persediaan sekaligus mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Bagi perusahaan yang ingin mengintegrasikan perencanaan produksi dan pengelolaan persediaan dengan proses bisnis lainnya, SAP S/4HANA dapat menjadi salah satu fondasi ERP untuk mendukung kebutuhan tersebut. Perusahaan juga dapat mengevaluasi pilihan adopsi SAP melalui GROW with SAP atau RISE with SAP, dengan mempertimbangkan skala, kompleksitas proses, serta kesiapan transformasi digital. Untuk kebutuhan perencanaan rantai pasok dan pelaksanaan manufaktur yang lebih spesifik, perusahaan juga dapat mengevaluasi relevansi SAP IBP dan SAP Digital Manufacturing sesuai kebutuhan masing-masing.
Jika perusahaan Anda ingin mengoptimalkan strategi Make to Stock melalui perencanaan produksi dan pengelolaan persediaan yang lebih terintegrasi, jadwalkan demo SAP S/4HANA bersama tim kami. Hubungi tim kami untuk berkonsultasi mengenai solusi SAP yang sesuai dengan kebutuhan dan kompleksitas proses manufaktur perusahaan Anda.
